Walaupun masa KP udah usai, rasanya gak menenangkan, ya. Pas awal keterima sih, rasanya seneng banget. Tapi makin kesini, euforia dan apa-apa yang didapat kerasa kelewat begitu aja. Sehabis masa-masa itu lewat, justru muncul pertanyaan baru.
"Abis ini ngapain?"
Beberapa orang mungkin bisa gampang jawab pertanyaan itu. Misal,
"Ya.. gua sih mau fokus TA aja",
"Gua mau lomba-lomba lagi dah, nanti dah gabisa lomba lagi",
"Gak ah, ngapain intern lagi. Gua mau fokus nyari full-time",
"Nyantai dulu kali bre, masa iya terlalu diburu-burukan. Kuliah cuman sekali",
Tapi ga semua orang bisa jawab itu. Bahkan kalau memang belum tau, buat iseng aja pun susah banget dijawabnya. Pun kalau bisa jawab, rasanya masih ada keraguan dari jawaban itu.
Dan pertanyaan itu nggak muncul begitu aja. Hal itu muncul karena secara tidak langsung kita dituntut untuk lebih berkontemplasi dan bijak atas waktu yang kita miliki saat ini.
Jika kita dalami sedikit pertanyaan itu. Secara semantik bisa jauh lebih luas maknanya dari sekadar "Habis KP ngapain". Secara gak langsung pertanyaan itu memantik gambaran lebih luas ke jalur kehidupan kita yang mau seperti apa.
Yang maknanya bermula dari "Habis KP ngapain?" secara gak langsung bertransformasi jadi "Lu mau jadi apa?".
Apakah semua jawaban itu salah? Tentu nggak. Apakah kita harus memiliki jawaban sekarang? Ya.. gua rasa lebih cepat lebih baik.
Masalahnya, makin banyak pandangan yang kita lihat, makin banyak pula versi tentang hidup yang "seharusnya"
Ada yang bilang ,"Kita harus punya gambaran jangka panjang, jangan cuman kutu lompat habis ini kemana"
Tapi dilain sisi ada yang bilang, "Kondisi sekarang itu anugrah, fokus aja sama apa yang bisa diraih dulu"
Dan mungkin memang gak ada satu jawaban yang berlaku buat semua orang.
Kita hidup dalam referensi. Referensi yang condong dengan apa yang kita alami, apa yang kita rasakan, dan apa yang kita punya. Apalagi, semua orang punya referensi-nya masing-masing.
Referensi kita juga gak harus selalu yang paling benar karena sejatinya memang gak ada yang pasti benar.. dan gak ada juga yang pasti salah.
Buat satu orang, habis KP mungkin waktunya fokus TA. Buat yang lain, mungkin justru kesempatan terakhir buat ikut lomba. Ada yang mulai ngejar full-time, ada juga yang cuma pengen berhenti sebentar karena selama ini rasanya hidup terus-terusan mengejar sesuatu.
Dan semuanya bisa masuk akal.
Yang mulai bahaya adalah ketika kita merasa pilihan orang lain adalah pilihan yang seharusnya kita ambil.
Ketika orang lain lari, kita merasa harus ikut lari. Ketika orang lain udah tahu mau ke mana, kita panik karena kita masih berdiri dan gatau mau ngapain.
Padahal kita gak harus selalu berada di pace yang sama.
Kadang step back sebentar juga gapapa. Bukan berarti berhenti. Bisa jadi kita cuma lagi mau melihat lebih jelas sebenarnya kita sedang menuju ke mana.
Karena mungkin kita memang belum harus tahu mau menjadi apa. Tapi setidaknya, kita perlu tahu kenapa kita memilih untuk berjalan ke suatu arah.
Mau arahnya ditentukan sekarang ataupun nanti, itu tergantung gimana cara kita memaknai arah itu sendiri. Pencarian arah sendiri juga memiliki jalannya masing-masing. Tapi yang penting jangan sampai orang lain mendiktekan arah itu.
Dan jangan lupa dengan waktu.
Kita memang gak harus menemukan semuanya sekarang. Tapi bukan berarti kita punya waktu yang gak terbatas buat terus menunda mencari tahu.
Pada akhirnya, waktu tetap berjalan, terlepas kita sudah punya jawaban atau belum.
Bukan kita yang menghabisi waktu, namun waktulah yg menghabisi kita. Tapi waktu masih berbaik hati, dia mengizinkan kita untuk memilih bagaimana cara kita dihabisi.